Breaking Post
Home » Fun » Motivasi » Ketika sepotong kue lebih berarti dari pada setumpuk uang

Ketika sepotong kue lebih berarti dari pada setumpuk uang

Siapapun manusia yang hidup dimuka bumi ini pasti akan berusaha memiliki uang kecuali mereka yang tidak waras ataupun mereka yang sudah tidak sanggup lagi untuk meraihnya. Seberapapun banyaknya nilai uang, namun masih banyak sesuatu di dunia yang tidak akan pernah bisa terbeli olehnya. Janganlah terlalu jauh mengartikan pernyataan tersebut seperti ingin membeli bulan dan bintang, itu hanyalah sebuah pusisi.

Membicarakan hal hal yang realita akan nilai sebuah uang, mungkin beberapa orang akan merasa bahwa dengan uanglah mereka dapat terpenuhi segala apa yang di harapkan. Hal tersebut masih bisa di terima secara logika karena kita hidup ini pada kenyataannya tetap memerlukan biaya.

Arti-sepotong-kueMembaca sekali lagi tentang judul sepotong kue lebih berarti dari setumpuk nilai uang hanyalah sebuah kiasan bahwasannya uang bukanlah segala galanya. Untuk apa memiliki uang yang banyak jika dengan memiliki sepotong kue saja seseorang sudah bahagia?

Menguraikan arti kiasan di atas harus dihubungkan dengan sebuah kejadian nyata yang mungkin saja pernah anda alami ataupun setidaknya pernah anda menyaksinkannya sendiri.

Di sebuah desa tinggal satu keluarga yang terdiri dari seorang nenek seorang kakek dan satu orang cucu dalam sebuah rumah dengan segala kesederhanaannya. Dari ketiga orang tersebut hanya nenek dan cucu itulah yang bisa menjalani hidup lebih normal dan masih sehat. Sedangkan kakeknya telah menderita stroke dengan kelumpuhan setengah bagian badannya. Untuk melakukan makan, minim, bauang air maupun pindah posisi tidur saja harus memerlukan bantuan dari sang cucu.

Penderitaan sang kakek telah berjalan sekitar 2 tahun dan sebelumnya telah dilakukan berbagai macam perawatan baik secara medis maupun alternative namun tetap tidak membuahkan hasil. Tidak sedikit biaya yang sudah dikeluarkan untuk pengobatan bahkan hampir saja apa yang dimiliki akan terjual untuk melanjutkan pengobatan.

Dengan keputusan yang berat, akhirnya sang kakek hanya dirawat di rumah dengan penuh kesabaran karena kondisi fisiknya yang semakin tidak menentu. Bahkan konsumsi makanan hanya sanggup menghabiskan sepotong kue yang di celup dengan teh hangat untuk sumber tenaganya.

Selama menjalani sisa hidupnya, sang kakek tampak lebih bahagia dengan nenek dan cucu yang setiap hari bisa lebih dekat dengan menyuapi sepotong kue dan menemani hampir 24 jam. Kedekatan itulah yang membuat sang kakek tampak lebih sabar dan ikhlas menghadapi apa yang menimpa dirinya. Dengan demikian, perjuangan dengan uang yang sebelumnya telah dilakukan namun justru membuat kakek tersebut putus asa adalah karena sang cucu berada jauh dan tidak bisa menemani setiap hari. Sedangkan hanya cucu itulah harapan dari keluarga itu karena sudah sejak bayi di besarkanya dengan penuh kasih sayang tanpa batas.