Breaking Post
Home » Fun » Motivasi » Seorang guru pengajar yang tidak pantas di sebut guru

Seorang guru pengajar yang tidak pantas di sebut guru

Seorang-guru-kejamSebagai seorang guru pengajar yang sepatutnya adalah menjadi panutan bagi setiap muridnya, ternyata ada saja yang masih memiliki sikap jauh dari kata bijak yang semestinya di sematkan untuk seorang guru.

Ada pepatah jawa yang yang menegaskan bahwa makna guru adalah di gugu lan di tiru yang berarti seorang guru merupakan sosok yang harus di percaya serta di ikuti karena merekalah yang akan memberikan dan menanamkan ajaran serta hal hal terbaik bagi semua murid muridnya.

Setiap orang tua di dunia manapun memberikan kepercayaan penuh terhadap para guru agar anak anak mereka di bimbing menuju jalan yang benar dengan cara yang benar pula.

Namun kenyataannya, dalam kehidupan ini tidak semua orang yang diberikan kepercayaan itu mampu untuk membawanya serta mampu sedikit lebih bijak dalam bersikap sebagai orang yang di anggap lebih ber ilmu.

Sebagai bukti yang tidak dapat disembunyikan lagi, masih banyak kisah kisah di balik sosok seorang guru yang ternyata hanyalah iblis bertopeng yang siap memangsa muridnya kapan saja karena sesuatu yang sebenarnya sangat sepele. Seperti contoh kasus guru yang mencabuli muridnya, sesungguhnya itu adalah tindakan paling bodoh bahkan lebih menjijikkan yang tidak layak di jalani oleh seorang guru.

Belum lagi kisah kisah seorang guru yang tega menganiaya muridnya dengan kekerasan, apakah sedemikian buruk dan bobroknya manusia yang sudah di angkat menjadi guru masih saja memiliki sikap seperti itu?

Saya pribadi adalah seseorang yang memiliki putra dan putri yang saat ini saya percayakan kepada mereka bapak dan ibu guru pengajar, agar putra putri saya di berikan bimbingan, ilmu, dan bentuk bentuk pendidikan yang nantinya akan menjadikan para generasi penerus tersebut sebagai orang yang lebih arif dan bijaksana bukan hanya sekedar pintar dan pandai saja.

Saya tidak terlalu berharap anak anak saya pintar dan pandai dalam pelajaran sekolah, bagi saya itu hanyalah bagian terkecil yang akan membawa mereka menjadi orang sukses di masa mendatang. Kesuksesan yang hakiki bagi saya adalah jika anak anak saya nantinya bisa menjadi seorang yang memiliki mental dan sikap bijaksana dalam bersosial bermasyarakat.

Contoh Mental Bobrok Seorang Guru SD

Bimbingan orang tua di rumah tentu saja juga akan mendukung terbentuknya karakter seorang anak, namun semuanya akan tetap tercoreng jika ternyata selama masa di sekolah mereka masih melihat contoh contoh sikap yang kurang terpuji dari guru yang semestinya mereka hormati.

Menghadapai murid yang begitu banyak, tentu saja ada beberapa yang mungkin membuat seorang guru sedikit lelah dan kesal dengan ulah muridnya. Dan di sinilah arti dan makna serta mental seorang guru di uji untuk dapat merubah hal buruk manjadi lebih baik.

Namun, apakah sudah pantas jika akhirnya seorang guru yang berani secara langsung justru mengungkapkan rasa benci dan kecaman terhadap muridnya yang memang sedikit bandel. Yang ujung ujungnya guru tersebut menyimpan kebencian pribadi kepada muridnya itu.

Apakah sikap tersebut menyelesaikan masalah? Saya rasa inilah awal masalah yang akan di buat oleh seorang guru.

Jika sang guru bisa membenci seorang murid seumur anak kelas 4 SD, bahkan dengan tidak memiliki rasa iba ataupun sedikit sikap kasih sayang selayaknya orang tua terhadap anakanya, apakah sebesar itu nyali seorang guru SD? Lalu bagaimana jika dia menghadapi murid yang setingkat mahasisawa? Tentunya perlu sebuah keberanian yang besar dan atas dasar yang kuat jika sang guru terpaksa harus bersikap demikian.

Artikel ini saya tulis berdasarkan fakta yang terjadi terhadap anak saya yang duduk di kelas 4 SD, dimana kondisi mental anak saya saat ini sedang terpuruk hanya karena di sekolah di perlakukan tidak adil oleh guru pengajarnya.

Kenakalan seorang anak berumur 9 tahun saya rasa sudah merupakan ujian yang harus di hadapi bersama sama oleh orang tua dan guru sekolahnya agar selalu melakukan kerjasama saling berkomunikasi secara baik agar memperoleh jalan yang bijaksana.

Namun dalam kasus ini, justru anak saya mendapatkan perlakuan diskriminasi di dalam kelas bahkan dengan tegas sang guru tersebut berani menyampaikan kepada rekan rekan guru lainya bahwa anak saya memang pantas untuk di benci dan di caci maki.

Hal ini terjadi ketika saya mendapati anak saya pulang sekolah sambil menangis dan ternyata hanya masalah di marahi oleh guru kelasnya. Seketika itu juga saya datangi sekolah berusaha ingin klarifikasi tentang apa yang terjadi dengan anak saya di kelas. Apa jawaban yang saya dapat dari guru kelasnya sungguh sangat membuat saya geli, dan saya rasa guru tersebut masih perlu banyak belajar dan kalau perlu kembali saja bersekolah yang lebih baik untuk bisa menjadi seorang guru sejati.

Ingin tahu apa jawaban guru tersebut kenapa membenci anak saya? Tunggu posting saya selanjutnya sembari saya menunggu keputusan yang akan saya dengar dari pihak kepala sekolah.

Artikel ini saya posting bukan sebagai kecaman, namun sekedar sebuah sindiran bahwasannya saya juga pernah menjadi seorang murid, begitu pula seorang guru juga harus bisa memposisikan diri berperasaan sebagai orang tua murid.

Wahai para guru semuanya,  apakah anda sudah benar benar siap dan mampu untuk menjadi contoh dan panutan yang bijak bagi anak murid anda?